Saat ini, setiap orang seakan terobsesi dengan gerakan ramah lingkungan. Namun di tengah euforia itu, secara tidak kita sadari, perusakan lingkungan terus berlangsung. Setiap hari, bahkan hal-hal kecil turut menyumbang menurunnya kualitas alam sekitar. Di setiap sisi kehidupan masyarakat, konsumen terus menghasilkan sampah.
Dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengurangi limbah. Namun bumi masih terus dan semakin menderita karena efek negatif dari pembangunan.
Berikut adalah tiga proses industri yang berpotensi menyumbang kerusakan lingkungan.
1. Manufaktur (Manufacturing)
Bukan hal yang baru jika sektor manufaktur menjadi penyumbang terbesar polusi lingkungan. Namun kita belum mengetahui secara detail prosesnya. Setiap tahun sektor ini membuang jutaan kilogram bahan kimia ke dalam tanah, air dan udara. Sektor ini menghasilkan berbagai jenis polusi. Polusi yang kita kenal dan sangat berbahaya.
Bahan-bahan kimia seperti merkuri, bahan pemicu kanker (carcinogen), dan racun biologi dan kimia lain (Persistent, bioaccumulative, and toxic pollutants/ PBT) adalah bahan-bahan yang biasa dijumpai di limbah manufaktur.
Setiap tahun lembaga perlindungan lingkungan (Environmental Protection Agency/EPA) mengeluarkan laporan yang memonitor 26 jenis industri manufaktur.
Berikut adalah sektor-sektor yang menjadi penyumbang terbesar limbah kimia berbahaya di lingkungan berdasarkan data tahun 2009 :
* Sektor Pertambangan Logam (Metal Mining)
* Sektor Energi Kelistrikan (Electric Utilities)
* Sektor Kimia * Sektor Produksi Logam (Primary Metal)
* Produsen Kertas
* Sektor Makanan/Minuman/Tembakau
* Sektor Pengelolaan Limbah Berbahaya
Setiap proses produksi sesungguhnya memiliki efek negatif terhadap lingkungan. Saat ini kelompok pemerhati lingkungan terus mengampanyekan proses Manufaktur Kompak (Lean Manufacturing) yang menghilangkan bahan serta proses yang tidak penting dalam sebuah produk.
Walaupun isu awalnya adalah efisiensi namun proses Manufaktur Kompak ini telah memberikan sumbangan yang signifikan pada proses manufaktur yang ramah lingkungan.
2. Pengemasan (Packaging)
Walau pengemasan sudah dimulai sejak proses manufaktur, namun sektor ini masih menyumbang limbah yang signifikan. Contoh, kita semua tahu bahaya “styrofoam”. Styrofoam tak bisa terurai di alam dan tidak memiliki nilai tambah lain selain harganya yang murah dan gampang diperoleh.
Bahan kemasan lain yang juga berbahaya adalah kantong plastik, botol gelas, kemasan film plastik (plastic film), kotak kertas (cardboard boxes) dan bungkus aluminum.
Tentu, setiap produk membutuhkan kemasan untuk melindungi barang dan memperpanjang masa pakainya – seperti di produk makanan. Namun masih banyak masalah terkait kemasan yang perlu diperhatikan.
Masalah-masalah itu meliputi :
- Pengemasan yang berlebihan (over-packaging)
Banyak produk yang menggunakan kemasan yang tidak perlu yang pada akhirnya dibuang. Mayoritas sampah rumah tangga berasal dari kemasan-kemasan seperti ini.
- Masalah pembuangan sampah
Hal ini terutama berlaku untuk kemasan makanan seperti pembungkus burger atau makanan ringan yang banyak dibuang sembarangan di sepanjang jalan dan tempat-tempat umum. Memakai bahan kemasan yang bisa terurai di alam (bio-degradable materials) belum mampu menjadi solusi atas prilaku jorok ini.
Mereka yang suka membuang sampah sembarangan bahkan bisa termotivasi untuk membuang sampah di mana saja karena tahu bahwa kemasan tersebut terbuat dari bahan yang ramah lingkungan.
Padahal dalam proses produksinya, kemasan-kemasan itu menghasilkan polusi karbon berbahaya seperti karbon dioksida (CO2) dan metana. Peningkatan jumlah gas-gas tersebut di udara memicu perubahan iklim global.
3. Transportasi Barang (Shipping)
Sektor ini adalah sektor terakhir dalam siklus negatif konsumen. Sektor transportasi menyumbang 5% dari 50.000 mega-ton karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan masyarakat setiap tahun.
Bahkan setelah proses distribusi selesai truk-truk kosong terus mengeluarkan emisi dengan mengonsumsi ribuan liter solar dengan mesin disel mereka. Ketiga proses di atas akan terus menimbulkan masalah lingkungan seiring dengan tumbuhnya ekonomi.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, dibutuhkan kesadaran kolektif, salah satunya adalah dengan sebisa mungkin memilih alternatif-alternatif ramah lingkungan dalam proses manufaktur, pengemasan dan transportasi barang. Jika tidak, tak butuh waktu lama untuk melihat bumi menjadi panas, gersang dan tak berpenghuni.
Referensi :
1. Green Living
Artikel Terkait...!!!
0 komentar:
Posting Komentar